- Battle Music Instrumen
- Beautiful Green Wild Beast Instrumen
- Evening instrumen
- Fightings Theme2 instrumen
- Fightings Theme instrumen
- Gaaras Theme Instrumen
- Itachis Theme instrumen
- Jiraiyas Theme instrumen
- Kakashis Theme instrumen
- Kyubis Theme instrumen
- Naruto Main Theme instrumen
- Need to Be Strong instrumen
- Nejis Theme instrumen
- Sakura's Theme
Selasa, 05 Agustus 2014
Musik Instrument OST. Naruto
Mungkin ada teman-teman yang lagi mencari musik-musik instrument yang selama ini digunakan pada anime Naruto, berikut saya bagikan musik-musik instrumet tersebut. Silahkan anda download sendiri pada link yang disediakan. Caranya langsung klik aja tuch judul musiknya!!!
Bagaimana mengatasi MSVCR110.dll Missing Error ?
Mungkin anda sering atau pernah megalami kejadian MSVCR110.dll Missing Error. sebagai contoh ketika kita ingin menjalankan program seperti WAMP Server.
Kesalahan
MSVCR110.dll terjadi ketika dua program berbagi file dll yang sama dan
jika salah satu dari program ini dihapus maka kadang-kadang akan
menghapus file dll terkait dengan kedua program tersebut.
Namun, Anda perlu untuk memperbaiki kesalahan MSVCR110.dll segera untuk aman dan bebas dari kesalahan operasi compuer jika kesalahan ini dapat mengarah ke sistem crash dan pengaturan merusak sistem penting.
Adapun langkah-langkah untuk memperbaiki masalah msvcr110.dll:
Ambil msvcr110.dll bentuk zip file
Download disini
disini
atau
..http: //www.dll-files.com/dllindex/dll.
Ekstrak file zip tersebut.
Kemudian salin file msvcr110.dll
Pergi ke lokasi di Komputer C : \ Windows \ System32 dan Paste file tersebut di sini
Cukup itu saja semoga bermanfaat.
Bagaimana mengatasi MSVCP110.dll Missing Error ?
Mungkin anda sering atau pernah megalami kejadian MSVCP110.dll Missing Error.
Kesalahan
MSVCP110.dll terjadi ketika dua program berbagi file dll yang sama dan
jika salah satu dari program ini dihapus maka kadang-kadang akan
menghapus file dll terkait dengan kedua program tersebut. Namun, Anda perlu untuk memperbaiki kesalahan MSVCP110.dll segera untuk aman dan bebas dari kesalahan operasi compuer jika kesalahan ini dapat mengarah ke sistem crash dan pengaturan merusak sistem penting.
Adapun langkah-langkah untuk memperbaiki masalah msvcp110.dll:
Ambil msvcp110.dll bentuk zip fil
Download disini
atau
..http: //www.dll-files.com/dllindex/dll.
Ekstrak file zip tersebut.
Kemudian salin file msvcp110.dll
Pergi ke lokasi di Komputer C : \ Windows \ System32 dan Paste file tersebut di sini
Cukup itu saja semoga bermanfaat.
Good Luck,,!!!
Selasa, 17 Juni 2014
Sirkulasi Elite
Oleh Mohd. Sabri AR
G. Mosca, The Rulling Class (1939) dan V. Pareto, Mind and Society (1935), dapat dipandang sebagai figur-figur awal yang mengidentifikasi fenomena kehadiran elit dalam sebuah masyarakat. Dalam rumusan kedua ilmuan tersebut, elit dibaca sebagai minoritas terbatas yang melaksanakan kekuasaan dan pengaruhnya karena keahlian mereka “mengelola” sejumlah sumberdaya yang menyebar dalam masyarakat. Filsuf Johan Galtung mendaku, akumulasi suberdaya tersebut meliputi: kekuasaan ideologi, renumeratif, dan punitif.
Realisme politik menunjukkan, elit yang mampu menguasai tiga jenis sumberdaya ini akan dapat melaksanakan misinya dengan baik. Sebaliknya, massa yang secara sadar “mengakui” kualifikasi elit akan memberikan legitimasi kepada kepemimpinan elit tersebut. Hal tersebut mengandaikan, setiap aspiran di Indonesia hendaknya membekali diri dengan tiga sumberdaya ini: ideologi, ekonomi, dan kekuatan. Berdasar pengalaman empirik, kekurangan salah satu sumberdaya akan berakibat fatal bagi legitimasi kepemimpinan elit bersangkutan.
Membaca sejarah elit politik di Indonesia, menarik mempertimbangkan “teori siklus” yang dikenalkan sejarahwan Belanda, Prof. Booke (1982): “Dalam siklus duapuluh tahunan, Indonesia selalu memperlihatkan dentuman besar jika bukannya revolusi sosial”. Hal ini bermakna—jika setiap siklus satu generasi—sebuah
G. Mosca, The Rulling Class (1939) dan V. Pareto, Mind and Society (1935), dapat dipandang sebagai figur-figur awal yang mengidentifikasi fenomena kehadiran elit dalam sebuah masyarakat. Dalam rumusan kedua ilmuan tersebut, elit dibaca sebagai minoritas terbatas yang melaksanakan kekuasaan dan pengaruhnya karena keahlian mereka “mengelola” sejumlah sumberdaya yang menyebar dalam masyarakat. Filsuf Johan Galtung mendaku, akumulasi suberdaya tersebut meliputi: kekuasaan ideologi, renumeratif, dan punitif.
Realisme politik menunjukkan, elit yang mampu menguasai tiga jenis sumberdaya ini akan dapat melaksanakan misinya dengan baik. Sebaliknya, massa yang secara sadar “mengakui” kualifikasi elit akan memberikan legitimasi kepada kepemimpinan elit tersebut. Hal tersebut mengandaikan, setiap aspiran di Indonesia hendaknya membekali diri dengan tiga sumberdaya ini: ideologi, ekonomi, dan kekuatan. Berdasar pengalaman empirik, kekurangan salah satu sumberdaya akan berakibat fatal bagi legitimasi kepemimpinan elit bersangkutan.
Membaca sejarah elit politik di Indonesia, menarik mempertimbangkan “teori siklus” yang dikenalkan sejarahwan Belanda, Prof. Booke (1982): “Dalam siklus duapuluh tahunan, Indonesia selalu memperlihatkan dentuman besar jika bukannya revolusi sosial”. Hal ini bermakna—jika setiap siklus satu generasi—sebuah
Jumat, 11 April 2014
Musik Primordial dan Nyanyian Kosmik
Oleh Mohd. Sabri AR
Di
sebuah ruang: sekelompok darwis menari, memusat-melingkar, menabrak arus
jarum jam, dikepung musik ney—sebilah seruling buluh—yang berakar
dari tradisi sufi Persia yang jauh. Kedudukan ney yang menonjol ini
tidak hanya karena digunakan maestro mistik-cinta Mawlânâ Rûmî, tapi
juga ney adalah instrumen arketip, memiliki posisi terhormat
di antara instrumen musik paling antik. Kemerduan ney yang tipikal dan
gema subtil yang dihasilkannya, mampu membangkitkan gairah spiritual dan
menuntun aku-ontologis membentang luas, menembus trans meta-kosmik
hingga ke “ruang” infinitum yang tak tepermanai.
Jika mistisisme secara natural dihubungkan dengan harmoni semesta, maka tarian “berputar” para darwis dari aliran Mawlâwî merupakan alegorisma dari mekanisme ruang kosmik dan planet-palnet yang berputar pada dua poros: pusat dan orbit. Itu sebab, tradisi sufi mengandaikan adanya “pusat” (axis) dan “lingkar luar” (mundis) sang aku. Yang pertama adalah aku-otentik; Fritjof Schuon dalam Transcendent Unity of Religions (1980) menyebutnya sebagai sesuatu yang “identik” dengan Kenyataan Ilahi, sementara yang terakhir adalah aku-periferial, aku-pinggiran. Dunia sufi adalah dunia yang memungkinkan seorang salik menemukan kesunyian paling senyap yang tersembunyi di “pusat” dirinya. Kesunyian primordial adalah bentuk musik paling sublim dan hanya terdengar oleh kualitas aku-ruhani tertentu yang mengenal jejak asal usulnya.
Dunia sufi adalah realitas penyingkapan rahasia diri dan kosmik, yang pada puncaknya mengenal Tuhan—melalui musik kesunyian primordial. Secara ontologis, seorang sufi dapat melakukan transformasi batin, sehingga mampu mendengarkan musik jiwa dan nyanyian kosmik. Bahkan di tengah kebisingan hidup sehari-hari, ia mendengarkan musik Kesunyian Yang Maha Lain. Itu sebabnya, masyarakat Hindu meyakini bahwa seni yang mula-mula dikirimkan dari nirvana kepada manusia adalah seni musik. Tak sedikit pula ahli makrifat Muslim (‘urafâ’) berpendapat, musik merupakan instrumen terbaik untuk mengekspresikan rahasia-rahasia Ilahi yang tak tercakapkan. Meminjam ungkapan Rûmî: musik primordial mengekspresikan rahasia perjanjian asali antara Tuhan dan manusia (asrâr-i alast) melalui selubung melodi.
Meski asalnya adalah dunia transenden-esoterik, ruh manusia bersemayam pada tubuh duniawi melalui suatu mukjizat—yang rahasianya hanya diketahui Tuhan—sehingga ia terjerembab dalam kehidupan dunia yang
Jika mistisisme secara natural dihubungkan dengan harmoni semesta, maka tarian “berputar” para darwis dari aliran Mawlâwî merupakan alegorisma dari mekanisme ruang kosmik dan planet-palnet yang berputar pada dua poros: pusat dan orbit. Itu sebab, tradisi sufi mengandaikan adanya “pusat” (axis) dan “lingkar luar” (mundis) sang aku. Yang pertama adalah aku-otentik; Fritjof Schuon dalam Transcendent Unity of Religions (1980) menyebutnya sebagai sesuatu yang “identik” dengan Kenyataan Ilahi, sementara yang terakhir adalah aku-periferial, aku-pinggiran. Dunia sufi adalah dunia yang memungkinkan seorang salik menemukan kesunyian paling senyap yang tersembunyi di “pusat” dirinya. Kesunyian primordial adalah bentuk musik paling sublim dan hanya terdengar oleh kualitas aku-ruhani tertentu yang mengenal jejak asal usulnya.
Dunia sufi adalah realitas penyingkapan rahasia diri dan kosmik, yang pada puncaknya mengenal Tuhan—melalui musik kesunyian primordial. Secara ontologis, seorang sufi dapat melakukan transformasi batin, sehingga mampu mendengarkan musik jiwa dan nyanyian kosmik. Bahkan di tengah kebisingan hidup sehari-hari, ia mendengarkan musik Kesunyian Yang Maha Lain. Itu sebabnya, masyarakat Hindu meyakini bahwa seni yang mula-mula dikirimkan dari nirvana kepada manusia adalah seni musik. Tak sedikit pula ahli makrifat Muslim (‘urafâ’) berpendapat, musik merupakan instrumen terbaik untuk mengekspresikan rahasia-rahasia Ilahi yang tak tercakapkan. Meminjam ungkapan Rûmî: musik primordial mengekspresikan rahasia perjanjian asali antara Tuhan dan manusia (asrâr-i alast) melalui selubung melodi.
Meski asalnya adalah dunia transenden-esoterik, ruh manusia bersemayam pada tubuh duniawi melalui suatu mukjizat—yang rahasianya hanya diketahui Tuhan—sehingga ia terjerembab dalam kehidupan dunia yang
Sabtu, 22 Maret 2014
Pewaris Tradisi (Sebuah Cerpen)
Oleh Hamdan
Malam
baru saja berjalan ketika sejumlah anak muda telah berkumpul di
lego-lego (teras) rumah Dollah. Kepulan asap rokok dari jauh seperti
awan tipis tersesat dari rombongan, terbawa angin yang bergerak sangat
pelan, dan berputar-putar di lego-lego itu dalam sorotan lampu spiral 25
watt. Tetapi cahaya lampu yang menembus kepulan asap, membuat lego-lego
dari kejauhan justru nampak seperti
panggung pementasan hard rock music festival. Kopi hitam dan pisang
rebus menambah susana semakin larut dalam carita dari Dollah. Kebetulan
Dollah baru sehari lalu pulang dari kota setelah hampir selama sebulan
menemani Bento sahabat facebooknya, di Rumah Sakit Umum Makassar yang
istrinya menjalani operasi tumor kandungan. Di kampung mereka, sarana
kesehatan belum memadai termasuk fasilitas Rumah Sakit.
“Kenapa harus kamu yang menemaninya Dollah? Bukankah sebaiknya perempuan yang menemaninya?” Tanya Ikaseng seolah ingin lebih tau cerita Dollah.
“Saya tidak menemani istrinya. Bentolah yang terus mendampingi istrinya. Saya membantu urusan-urusan lain di rumah sakit. beli makanan, ambel obat ke apotik, ambel darah di bank darah, bawa darah ke laboratorium, dan banyak lagi. Bento dan istrinya orang jauh di seberang. Mereka tak punya keluarga dan belum pernah ke kota Makassar. Makanya sayalah satu-satunya yang mereka andalkan.”
“Apa itu bank darah dollah?” Asere nampak sangat bingung dengan istilah itu.
“Bank darah itu adalah suatu tempat darah dikumpul menurut jenisnya. Ada darah A, B, AB, dan O. Jadi, kalo ada pasien yang butuh darah, dokter tinggal memberi seperti resep untuk memesan dan mengambil darah. Kalo operasi berjalan normal mungkin dibutuhkan sekitar tiga kantong darah. Satu kantong mungkin
“Kenapa harus kamu yang menemaninya Dollah? Bukankah sebaiknya perempuan yang menemaninya?” Tanya Ikaseng seolah ingin lebih tau cerita Dollah.
“Saya tidak menemani istrinya. Bentolah yang terus mendampingi istrinya. Saya membantu urusan-urusan lain di rumah sakit. beli makanan, ambel obat ke apotik, ambel darah di bank darah, bawa darah ke laboratorium, dan banyak lagi. Bento dan istrinya orang jauh di seberang. Mereka tak punya keluarga dan belum pernah ke kota Makassar. Makanya sayalah satu-satunya yang mereka andalkan.”
“Apa itu bank darah dollah?” Asere nampak sangat bingung dengan istilah itu.
“Bank darah itu adalah suatu tempat darah dikumpul menurut jenisnya. Ada darah A, B, AB, dan O. Jadi, kalo ada pasien yang butuh darah, dokter tinggal memberi seperti resep untuk memesan dan mengambil darah. Kalo operasi berjalan normal mungkin dibutuhkan sekitar tiga kantong darah. Satu kantong mungkin
Selasa, 04 Maret 2014
Masa Depan Tuhan
Oleh Mohd. Sabri AR
Postscriptus
yang menggetarkan. Akhir yang menggugat: masihkah Tuhan punya masa
depan? Pesan itu seolah hadir untuk mengoyak ketertiban iman, “maybe God
really is an idea of the past,” begitu pendakuan Karen Amstrong dalam
bab terakhir bukunya The History of God. Buku yang lahir dari survei
yang ketat dan genial: bagaimana manusia, sepanjang tak kurang dari 4000
tahun, merumuskan Tuhan. Tuhan masa lalu adalah Tuhan yang memiliki
peran decisive dalam segaris sejarah manusia yang beku. Tiga pilar
wiracarita soal Tuhan pun diluahkan dalam narasi mitos, kitab suci, dan
sains. Masing-masing punya argumen yang riuh. Tak ada mufakat. Saling
debat. Satu-satunya yang secara nisbi bisa diterima tanpa jejak
pertikaian: bahwa Tuhan ditemukan dalam aksara lalu diekspresikan dalam
jagad tanda yang jamak.
Namun, haruskah ini berarti jika Tuhan akan tetap memainkan peran “masa lalu”Nya untuk masa kini dan masa depan? Apakah “paham” tentang Tuhan masa lalu akan tetap bertahan dalam sebilah keyakinan dan tersimpan rapi dalam pualam dogma yang beku? Amstrong, lagi-lagi bersikukuh dengan temuannya, setelah dengan benderang menghamparkan zeit geist masa kini yang suram: aneka kekerasan dan perang, kehancuran lingkungan, demoralisasi, penyakit AIDS yang tak tersembuhkan, penduduk yang kian eksplosif, kelaparan dan kekeringan, hingga agama—yang sejauh ini menjadah wadah paling sublim mempercakapkan
Namun, haruskah ini berarti jika Tuhan akan tetap memainkan peran “masa lalu”Nya untuk masa kini dan masa depan? Apakah “paham” tentang Tuhan masa lalu akan tetap bertahan dalam sebilah keyakinan dan tersimpan rapi dalam pualam dogma yang beku? Amstrong, lagi-lagi bersikukuh dengan temuannya, setelah dengan benderang menghamparkan zeit geist masa kini yang suram: aneka kekerasan dan perang, kehancuran lingkungan, demoralisasi, penyakit AIDS yang tak tersembuhkan, penduduk yang kian eksplosif, kelaparan dan kekeringan, hingga agama—yang sejauh ini menjadah wadah paling sublim mempercakapkan
Langganan:
Postingan (Atom)
